100100 Voting: 798,879,658

Thursday, April 12, 2012

Ajaran Islam Untuk Orang Tua Setelah Anak Lahir

Saya ingin bertanya tentang kewajiban seorang calon orang tua yang Insya Allah akan mendapatkan seorang anak.

1. Sewaktu istri akan melahirkan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh calon bapaknya?

2. Setelah anak lahir di dunia (dan Insya Allah istri & anaknya dalam keadaan selamat juga sehat wal'afiat), apa saja yang disunnahkan oleh Rasullulah? Gaffar

Jawab: Dalam menghadapi perubahan-perubahan kehidupan dunia yang demikian pesat, tidak hanya kita yang perlu mempersiapkan bekal mental-spiritual, agar tidak tergelincir dalam dosa dan kebutaan hati, lebih-lebih lagi adalah generasi yang lebih muda, yang akan menghadapi perubahan-perubahan yang lebih cepat lagi. Pendidikan, pengajaran dan praktek agama yang mengisi rohani dapat kita rasakan pentingnya. Untuk itu ajaran-ajaran Islam telah mempersiapkan berbagai perangkat, di antaranya adalah pendidikan dan praktek agama sejak bayi dilahirkan.

1. Seorang calon ayah atau ibu amat was-was menunggu kelahiran bayinya. Pada sat-saat seperti itu mereka berdoa sebagaimana Nabi Zakaria (Ali Imran 38) "Tuhanku, karuniakanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sungguh Engkau Maha Mendengar permohonan."

2. Dan saat tiba waktunya sang bayi lahir, terurailah senyum tawa, menyaksikan sang bayi yang lucu, yang baru lahir dan ibu bayi yang selamat. Tak lupa diucapkan "alhamdulillah" sebagai rasa syukur ke hadirat Allah.

3. Sejak saat itu pendidikan dan praktek agama bagi sang bayi dimulai. Dengan penuh sigap sang ayah mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamah (qamat) di telinga kiri. Agar kalimat-kalimat tauhidlah yang pertama-tama ia dengar, sehingga pada akhir hayatnya kalimat kalimat itu pulalah yang akan ia dengar dan ia ucapkan.

4. Pada hari ketujuh sebagai ungkapan rasa syukur dan sebagai bekal bagi sang bayi dilaksanakan upacara "aqiqah". Ia merupakan kesaksian dari anggota masyarakat atas kehadirannya dan penerimaan mereka. Ia merupakan isyarat dan harapan bahwa sang bayi nantinya siap untuk berkorban dan memberi manfaat bagi masyarakatnya.

Kata "aqiqah" berarti memotong, karena pada saat itu dipotong ternak untuk jamuan dan dipotong rambut sang bayi. Hukum melaksanakan "aqiqah" adalah sunnah muakkadah, atau sunnah yang kuat. Kata tergadai dalam hadits tadi diartikan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai, "orangtua tidak mendapatkan syafaat dari anaknya sampai dilaksanakan "aqiqah" untuknya". Sehingga upacara "aqiqah" menurut para ulama dapat dilaksanakan sampai anak menjadi besar atau baligh.

Jumlah ternak yang dipotong, dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan seekor untuk anak perempuan. Kambing yang sudah berumur setahun, yang sehat, yang tidak cacat, dengan harapan agar sang anak sehat dan tidak cacat, dan diniatkan dipotong untuk kurban sang bayi. Daging kambing disunnahkan untuk dimasak dengan dicampur bumbu yang manis, dengan harapan sang anak tumbuh dengan akhlaq yang elok. Lalu dihidangkan kepada para undangan. Hanya bagian kakinya, disunnahkan untuk diberikan pada sang bidan yang ikut melahirkan sang anak.

Rambut sang bayi dipotong gundul dan disunnahkan untuk memberikan sedekah seberat timbangan rambut tadi dengan emas atau perak. Sang bayi juga diberi makanan yang manis, kurma yang dihaluskan, dengan harapan akan menjadi anak yang manis dan generasi penerus yang melaksanakan kebajikan.

5. Sang bayi juga diberi nama yang baik. Dalam sebuah hadits disebutkan: "Merupakan sebagian dari hak seorang anak atas orangtuanya adalah mendidiknya dengan baik dan memberikan nama yang baik."

Perlu kami garis bawahi di sini tentang pemberian nama. Nama yang terbaik bagi seorang bayi laki-laki adalah Abdullah dan Abdurrahman. Setelah itu nama para rasul, nabi (seperti Muhammad SAW), malaikat, orang-orang yang salih dan yang memiliki arti yang baik. Semua itu dengan harapan bahwa sang bayi nantinya akan tumbuh dengan menjadikan namanya sebagai referensi. Kalau namanya Abdullah, maka ketika ia hendak berbuat tak baik, dan tak sengaja dipanggil, ia akan teringat peraturan-peraturan Allah, dan tak jadi berbuat aniaya. Dan begitulah seterusnya.

Tokoh Islam: Shafiyah binti Abdul Mutthalib

Tokoh Islam: Shafiyah binti Abdul Mutthalib
Muslimah pertama dalam Islam yang menewaskan orang musyrik dengan tangannya, dalam peperangan menegakkan agama Allah. [kata ahli-ahli sejarah]

Dia wanita bangsawan yang berpikiran murni dan memiliki karakter tinggi. Orang-orang pandai menilainya dengan seribu macam penilaian. Sebagai wanita sahabat yang gagah berani, tercatat dalam sejarah Islam. Dia muslimah pertama yang menewaskan orang musyrik dengan tangannya dalam perang menegakkan agama Allah. Dia wanita pertama yang muncul menunggang kuda dan menghunus pedang dalam perang fi sabilillah.

Shafiyah binti Abdul Mutthalib

Siapa sesungguhnya srikandi muslimah ini?

Dia adalah SHAFIYAH BINTI ABDUL MUTTHALIB AL HASYIMIYAH AL QURASYIYAH, bibi Muhammad bin Abdul Mutthalib, Rasulullah SAW. Kemuliaan adalah melengkupi Shafiyah dari berbagai pihak. Ayahnya Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi SAW, seorang pemimpin Quraisy yang dipatuhi. Ibunya Halah binti Wahab, saudaranya Aminah binti Wahab ibunda Rasulullah SAW. Suaminya yang pertama Al Harits bin Harb, saudara Abu Sufyan bin Harb, pemimpin Bani Umayyah.

Al Harits wafat ketika Shafiyah masih menjadi isterinya. Suaminya yang kedua Al Awwam bin Khuwailid, saudara laki-laki Khadijah binti Khuwailid, pemimpin wanita Arab pada masa jahiliyah, dan Ummul Mu'minin pertama dalam Islam. Puteranya Zubair bin Awwam, pembantu khusus (Hawariy) Rasulullah SAW.

Kemuliaan turunan yang bagaimanakah lagi yang hendak diraih orang sesudah itu selain kemuliaan Iman? Suaminya kedua meninggalkan seorang putera baginya. Anak itu ditinggal wafat oleh bapaknya ketika kecil dan diberinya nama “Zubair”. Zubair dibesarkan Shafiyah dengan pendidikan yang keras. Dia mengajar anaknya kepintaran berkuda dan berperang. Permainannya lomba memanah dan memperbaiki busur. Shafiyah biasa meninggalkan anaknya di tempat-tempat angker, dan membawanya ke tempat-tempat berbahaya. Bila dilihatnya Zubair mundur maju atau ragu-ragu, dipukulnya. Sehingga pada suatu ketika Shafiyah ditegur oleh pamannya.

Kata paman, “Engkau memukul dengan pukulan kebencian, bukan dengan pukulan seorang ibu….”

Shafiyah menjawab dengan bersajak.

image“Siapa mengatakan aku memukul benci, sungguh dusta,

Aku memukul supaya pintar,

Tangguh menghadapi musuh,

Pulang dengan kemenangan.”

Kemudian Allah mengutus Nabi-Nya membawa agama yang hak, memberi kabar takut dan kabar gembira. Allah memerintahkan Nabi supaya memulai dakwah dalam keluarga terdekat. Maka dikumpulkannya segenap bani Abdul Mutthalib, pria, wanita, orang tua dan anak-anak.

Nabi berpidato di hadapan mereka :

“Hai, Fatimah binti Muhammad….!

“Hai, Shafiyah binti Abdul Mutthalib…!

Hai, Bani Abdul Mutthalib….!

“Aku tidak dibekali Allah untuk kalian, kecuali mengajak kalian iman kepada Allah dan mempercayai kerasulanku…”

Setelah selesai berpidato, ada di antara mereka yang segera menerima dakwah (ajakan) beliau, ada yang ragu-ragu, dan ada pula yang menolak mentah-mentah. Shafiyah termasuk kelompok pertama yang menerima dan percaya.

Karena itu lengkaplah sudah terkumpul pada pribadi Shafiyah seluruh unsur kemuliaan, yaitu unsur-unsur keturunan sebagai bangsawan tinggi, disempurnakan dengan unsur ketinggian Islam.

Sejak itu Shafiyah dan puteranya membaur ke dalam kelompok cahaya yang terang benderang. Dia turut berjuang mati-matian, dan bekerja keras bersama-sama kaum muslimin kelompok pertama menegakkan panji-panji dakwah menghadapi tantatangan kaum Quraisy, baik berupa agitasi, intimidasi, dan segala macam teror yang dilancarkan Quraisy.

Ketika Allah mengizinkan Nabi-Nya dan orang-orang mukminin hijrah ke Madinah, Shafiyah yang bangsawan Bani Hasyim ini pun turut pula berhijrah. Dengan ikhlas ditinggalkannya kota Makkah dengan kenangan-kenangan indah, kebangsawanan, kemegahan dan kebanggaan. Dihadapkannya mukanya ke Madinah sebagai muhajirin, pindah dari agama sesat nenek moyang ke agama Allah dan Rasul-Nya.

Kini Sayyidah (nyonya) yang agung ini memasuki usia keenam puluh dalam hidupnya yang panjang dan penuh tantangan sebagai srikandi. Dia telah turut berperan di berbagai medan jihad seperti yang selalu disebut-sebut oleh sejarah sebagai cerita yang menabjubkan dan penuh sanjungan.

Di halaman yang terbatas ini cukuplah kiranya kami ketengahkan peranan beliau yang tidak saja memperlihatkannya sebagai pendekar gagah, tetapi juga muslimah yang sabar, berhati teguh dan beriman kuat, yaitu dalam perang Uhud .

Dalam perang Uhud, Shafiyah turut berperang bersama-sama tentara muslimin, bergabung dalam pasukan para wanita. Tugasnya mengangkat air, menyediakan anak panah, dan memperbaiki busur. Di samping itu Shafiyah mempunyai tujuan atau alasan khusus. Dia ingin merekam seluruh jalannya pertempuran ke dalam ingatannya yang kuat.

Memang tidak mengherankan kalau dia mempunyai keinginan pribadi seperti itu. Mengapa tidak? Karena di medan tempur terdapat anak saudaranya, Muhammad Rasulullah, terdapat saudaranya Hamzah bin Abdul Mutthalib, yang dijuluki “Asadullah” (singa Allah), dan ada pula anak kandungnya Zubair bin Awwam, yang berpredikat “Hawary Nabiyallah” (pembantu khusus Nabi Allah). Dan yang lebih mendasar daripada itu semua bahwa yang diikutinya itu menentukan perjalanan agama Islam, yang dianuti dengan sungguh-sungguh oleh Shafiyah.

Ketika memperhatikan jalannya pertempuran, Shafiyah melihat kaum muslimin terdesak hingga terpencar-pencar jauh dari Rasulullah. Hanya sedikit jumlah mereka yang tinggal bertahan bersama beliau. Sementara itu kaum musyrikin menyerbu dengan pesatnya, sehingga hampir tiba dekat Rasulullah dan mereka hampir membunuh beliau. Secepat kilat Shafiyah melemparkan tempat air yang dibawanya, lalu dengan tangkas dia melompat bagaikan singa betina sedang melatih anaknya. Direbutnya pedang seorang muslim yang lari ketakutan. Kemudian ia maju menyerang barisan musuh dengan pedang terhunus dan menebas setiap musuh yang berada di hadapannya. Dia berteriak kepada kaum muslimin, “Pengecut kalian! Mengapa kalian tinggalkan Rasulullah?” katanya.

Ketika Nabi melihat Shafiyah maju ke tengah medan, beliau kuatir kalau Shafiyah tak kuat menahan sedih menemukan mayat saudaranya Hamzah bin Abdul Mutthalib yang tewas di tengah medan pertempuran. Lalu beliau memberi isyarat kepada Zubair. “Cegah ibumu, Zubair….! Cegah ibumu…! Kata beliau memerintahkan Zubair menyuruh ibunya kembali.

Zubair segera berpacu mengejar ibunya. “Ibu..! Kembali..! Ibu…Kembali!” teriak Zubair memanggil ibunya.

“Pergi kau..! Tidak ada ibu-ibuan..!” jawab Shafiyah.

“Rasulullah memerintahkan ibu kembali..! kata Zubair pula.

Mengapa? Aku mendengar mayat saudaraku dirusak binasakan mereka. Padahal saudaraku tewas fi sabilillah…! Kata Shafiyah.

“Biarkan ibumu, hain Zubair!” kata Rasulullah.

Zubair membiarkanya ibunya pergi.

Ketika pertempuran telah usai, Shafiyah berdiri dekat mayat saudaranya. Didapatinya perut Hamzah terbelah. Jantungnya diambil orang. Hidung dan kupingnya sudah dipotong. Mukanya rusak tak dapat dikenali.

Menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, Shafiyah memohon ampun bagi Hamzah. Kemudian berkata : “Dia tewas fi sabilillah, Aku ridha dengan keputusan Allah atasnya, Demi Allah! Aku akan tetap sabar, dan menyerahkan semua ini kepada Allah, serta memohonkan pahala untuknya…”

Itulah peran Shafiyah binti Abdul Mutthalib dalam perang Uhud. Semoga Allah meridhai Shafiyah binti Abdul Mutthalib. Dia merupakan contoh tunggal bagi wanita muslimah. Dia mengembangkan kepribadian sendiri, lalu diperkuatnya kepribadian itu. Dia tidak luput dari berbagai macam kesulitan, tetapi senantiasa mengatasinya dengan cara yang paling baik, yaitu meneguhkan hati (sabar) serta iman yang kokoh

Wednesday, April 11, 2012

Renungan: Pesan Sebelum Mati

Bismillahir rahmanirrahiem,

Keluargaku yang kusayangi,

Aku tidak tahu kapan Sang Pemilik jiwaku ini memanggilku.
Namun demikian rasa khawatirku untuk tidak meninggalkan kesusahan dan keburukan sepeninggalku, telah mendorongku untuk berwasiat kepadamu sekalian.

Hendaklah kamu sekalian tidak bersedih hati dengan apa saja yang luput darimu dan tidak pula meratapi apa2 yang telah ditakdirkan Allah (swt) agar menjadi bagian dari kisah kehidupan di dunia ini. Kematianku tidaklah berbeda dengan kematian manusia lainnya. Yang demikian adalah karena setiap yang bernyawa pasti akan mati. [1]
Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku tidak dapat memberi jaminan hidup atas hidupku sendiri sebagaimana aku tidak dapat memastikan apa yang dapat kita lakukan esok hari dari rencana2 kita. Yang demikian adalah karena kita adalah hamba2 Allah yang tidak memiliki sedikitpun kekuasaan dan kemampuan kecuali sekedar apa yang diberikan-Nya yang sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

Jika aku mati, hendaknya kamu sekalian tidak panik. Kematian adalah perkara biasa yang orang lain juga menghadapinya. Uruslah jenazahku dengan kemampuan terbaik kalian. Jika aku sempat mandi sebelum aku mati, maka hendaklah tidak seorangpun yang mengulanginya. Kewajiban kalian adalah menutupi bagian2-ku yang masih terbuka dengan kain (kafan). Jika tidak, maka mandikan dan bersihkanlah bagian2 yang penting sebelum kalian mengkafaniku sehingga aku layak untuk menghadap Allah (swt).

Jika hanya seorang dari kalian yang ada di sisiku pada saat kematianku, hendaklah kamu memberitahu tetangga terdekat yang sekiranya mereka dapat membantu menguruskan jenazahku atau mereka memberitahu orang lain yang layak untuk memandikan dan mengkafankan jenazahku. Untuk hal ini, hendaklah mereka termasuk orang2 yang amanah yang dapat menjaga aurat dan aibku dengan baik.

Di bumi mana aku mati, maka tempat yang paling layak dan paling baik bagi jenazahku adalah tanah perkuburan yang terdekat dengan tempat kematianku. Yang demikian lebih aku sukai agar tempatku termasuk hal2 yang akan dapat memberi kesaksian tentang apa yang telah aku kerjakan buat agama ini. Oleh karena itu, janganlah se-kali2 kalian mencoba mengangkut atau membawa jenazahku lebih jauh dari tempat itu.

Dan jangan biarkan jenazahku menunggu. Jangan pula seorang dari kalian, orangtua, sanak famili, sahabat, handai tolan dan kawan2 baikku dijadikan alasan untuk menunda jenazahku masuk liang lahat. Selain perkara ini tidak membebani mereka yang mengurus jenazahku, hal itu juga lebih baik bagi mereka yang datang kemudian.

Jika yang datang kemudian adalah dari golongan orang2 yang sholeh, maka sudah tentu mereka akan tahu cara menolongku dengan pertolongan ghaib. Sebaliknya, jika yang datang kemudian adalah orang2 yang belum sempurna agamanya, maka hal itu tidak akan menambah kesalahan dan dosa mereka. [2]

Tahanlah lisan kalian dalam mengekspresikan rasa bela sungkawa atau duka cita kalian. Meskipun aku rela kamu mencurahkan air matamu, tetapi janganlah se-kali2 kamu meratap atau mengeluarkan kata2 kesedihan. Yang demikian adalah karena selain hal itu akan menyusahkanku di kubur, hal itu juga akan menjadi dosa bagimu.
Berserah dirilah kepada Allah (swt) tidak saja dalam urusan rezekimu, tetapi juga dalam semua aspek kehidupanmu. Yakinlah dengan keyakinan yang bulat bahwa Allah (swt) maha cermat dalam mengurus semua makhluk-Nya. Dia mustahil ceroboh sebagaimana Dia mustahil berbuat zhalim kepada ciptaan-Nya sendiri. Karena itu, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat [4].

Tidak ada warisan terbaik yang dapat aku tinggalkan kepada kalian selain aku telah berusaha dengan segala daya agar kalian terbiasa berada di jalan Allah. Dan meskipun aku seringkali gagal dalam memberi kalian warisan akhlak yang agung sebagaimana akhlak Rasulullah (saw), tetapi paling tidak kalian telah mengetahui bagaimana cara menghadirkannya jika kalian mau. Dan sekiranya ada benda2 yang aku tinggalkan pada kalian, maka orang terbaik diantara kalian adalah dia yang paling tidak memerlukannya.

Keluarga-ku, jika kelak kalian merindukanku, maka pasti dan pasti kalian akan menjumpaiku di akhirat hanya jika Allah (swt) ridho kepada kalian. Yang demikian adalah jika aku tercampak ke dalam neraka, maka sebagai ahli surga kalian dapat dengan mudah menziarahiku [5]. Sebaliknya, jika dengan rahmat-Nya, Allah (swt) memasukkanku sebagai salah seorang ahli surga, maka sesungguhnya tiada halangan apapun antara sesama ahli surga untuk saling menziarahinya.

Dan jika datang kepadamu orang2 agar kalian mengikuti cara hidup lain selain yang telah diajarkan oleh Rasulullah (saw), maka kuatkanlah keyakinan kalian dan gigitlah erat2 agama (Islam) ini dengan gerahammu dan katakan dengan tegas dan tekad yang bulat, "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia dari golongan orang musyrik." [6]

La ilaha illallah Muhammadur rasulullah. Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar wa la haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil azhim. Subhanallah.

Catatan kaki:

[1] Tiap2 yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Qs al Ankabut 29:57)
[2] Termasuk di dalamnya adalah dengan melakukan sholatul ghaib dan membicarakan kebaikan2 mayyit.
[3] Termasuk di dalamnya adalah orang2 yang lemah batin saat melihat mayyit sehingga melakukan hal2 yang tidak syar'i seumpama meratap dlsb.
[4] Hai orang2 yang beriman, mintalah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang2 yang sabar. (Qs al Baqarah 2:153)
Dan mintalah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang2 yang khusyuk. (Qs al Baqarah 2:45)
[5] Dan penghuni2 surga berseru kepada penghuni2 neraka (dengan menziarahi mereka sambil mengatakan), "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?" Mereka (penduduk neraka) menjawab, "Betul." (Qs al A'raf 7:44)
[6] Dan mereka berkata, "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk." Katakanlah, "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik." (Qs al Baqarah 2:135)

Sumber tulisan oleh : Subhan ibn Abdullah
(Mohon maaf dari Penjaga Kebun Hikmah atas adanya sedikit perubahan dari tulisan aslinya)